Kubah Sampah

27 02 2009

Max Wallack, 12 tahun, menjadi perhatian utama dalam acara “Design Squad’s Trash to Treasure” sebuah acara untuk mendorong penemuan cara-cara baru dalam mendaur ulang limbah menjadi barang-barang praktis.

Max membuat “Home Dome” (Kubah Rumah), sebagai tempat bernaung para tuna wisma. Kubah tersebut terbuat dari limbah plastik, kawat, dan kemasan kacang. Atau dengan kata lain dari sampah.

home-dome

Berkat desain kubah limbah yang mirip Yurt (tenda tradisional) Mongolia tersebut, Max memenangkan hadiah US$ 10.000 (hampir Rp.120 juta) ditambah laptop Dell dan wisata ke Boston. Namun Max mengatakan, “Bukan uang tersebut yang saya inginkan, namun BAGAIMANA SAYA DAPAT MENOLONG ORANG LAIN.”

Ini bukanlah kemenangan pertama Max. “Waktu saya berumur enam tahun,” kata Max, “Saya menang sebuah kontes penemuan yang hadiahnya termasuk wisata ke Chicago. Disana saya melihat para tunawisma hidup dijalan-jalan, di bawah jalan layang, jembatan, terowongan. Saya merasa kasihan pada mereka, dan sejak itu saya mencari cara-cara untuk menolong mereka. Penemuan saya akan meningkatkan kondisi hidup para tunawisma, pengungsi atau korban-korban bencana alam berkat tersedianya tempat bernaung yang mudah dibangun.”

Ayo Max! Kami tunggu penemuan-penemuan barumu.

Sumber: http://greenbuildingelements.com/2009/02/26/12-year-old-makes-homeless-shelter-from-trash/





Dokter Manado

25 02 2009

Ada seorang dokter dari suku Jawa. Tamatan Fakultas kedokteran yang terkenal di Pulau Jawa. Kemudian dia menikah dengan seorang putri cantik asli Kawanua. Sang istri merayu suaminya untuk buka praktek di Manado. Setelah berpikir panjang dan lama, sang suami setuju. Suatu sore, datang seorang ibu tua berharap mendapat pengobatan agar secepatnya sembuh.

Pasien: “Selamat sore.”
Dokter: “Sore, Bu! Sakit apa, Bu?”
Pasien: “Kokehe, dok.”
Sang dokter bingung. “Sakit apa lagi nih Ibu” tanyanya dalam hati. Ia pun mulai buka buku-pintarnya, nggak juga ketemu. Tak hilang akal, ia coba mengajukan satu pertanyaan.
Dokter: “Kalau ibu kokehe, apanya yang sakit?”
Pasien: “Gergantang gatal, dok.”
Sang dokter makin bingung. “Kalau gatal, saya tahu. Tapi gergantang, sakit apa lagi itu?” ia kembali bertanya dalam hati. Seakan tak gampang menyerah, sebagaimana orang cerdas lainnya, ia kembali mengajukan satu pertanyaan. Ia berharap dengan mengajukan pertanyaan yang satu ini, ia akan tahu si ibu sakit apa.
Dokter: “Kalau ibu kokehe dan gergantang gatal, Ibu minum apa?”
Pasien: “Goraka, Dok.”
“Apa lagi obat goraka itu?” sang dokter tambah pusing. Akhirnya ia menyerah!

Keluar pasien lama, masuk lagi pasien baru yang ingin memeriksa sakitnya. Seorang gadis belia.
Dokter: “Selamat sore. Silahkan duduk!” Sambut dokter dengan ramah.
Pasien: “Sore, dok. Terima kasih.”
Dokter: “Sakit apa?”
Pasien: “Pantaleher span, dok.”
Karena stres menangani pasien sebelumnya belum pulih benar, dalam kebingungan bercampur frustasi menghadapi pasien-pasien orang Manado, sang dokter yang belum bisa dan mengerti bahasa Manado kemudian setengah berteriak berkata: “Kalau jawab tolong satu-satu ya, pantat dulu, baru leher …”


Note:
Kokehe = batuk
Gergantang = tenggorokan
Goraka = jahe
Pantaleher span = tengkuk kaku





Kisah Beruang

24 02 2009

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.

Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air.
Namun, tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.

beruangIkan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.”
“Mengapa ? ” tanya beruang.
“Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan.
“Lalu kenapa?” tanya beruang lagi.
“Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu.” kata ikan.

“Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang
“Mengapa,” ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !” jawab beruang sambil tersenyum mantap.

“Ops !” teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap :”Ohhhh… andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu
dulu ..!!!?.”

Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;….
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ….
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ….
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita….

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan yang besar.





Manusia Mujizat

20 02 2009

Keluarga Mike Connolly dan para perawat menyebutnya Manusia Mukjizat — dan para dokter mau tak mau harus mempercayainya.

Akhir Januari lalu, jantung Connolly (56 tahun) berhenti berdetak, dan ia jatuh dalam keadaan koma. Setelah 96 jam dirawat intensif dengan berbagai peralatan, para dokter Tri-City Medical Center menyerah. Akhirnya, keluarganya dengan sedih, merelakan Connolly “pergi” dengan menyetujui pencabutan alat-alat bantu kehidupan yang menempel disekujur dirinya.

Ketika itulah, tiba-tiba Connolly sadar.

Anak tirinya, Mike Cooper, sedang membacakan Alkitab di samping ranjang Connolly ketika ia melihat air mata meleleh di pipi Connolly.

Cooper tadinya tidak begitu memperhatikan kejadian ini, namun ketika ia beranjak ke luar kamar, ia mendengar teriakan seorang angggota keluarga Connolly yang masih ada di kamar perawatan tersebut.

“Mike bereaksi, katanya. Saya mula-mula tidak percaya, tapi waktu saya masuk kembali, ternyata benar. Waktu namanya disebut, Connolly memalingkan kepalanya ke arah yang memanggil. Ini sebuah mukjizat” kata Cooper.

Ternyata walau para dokter telah menyatakan bahwa Connolly tanpa harapan dan otaknya tidak mungkin pulih kembali, saat ini ia menunjukkan kemajuan pesat. Bahkan para dokter yang tadinya sangsi tersebut, menyatakan bahwa Connolly menuju pemulihan total.

Martin Nielsen, dokter spesialis paru-paru Connolly, menyatakan bahwa tidak berlebihan menyebut kejadian pemulihan tersebut mukjizat. “Kejadian Mike Connolly merupakan mukjizat,” katanya. “Saya tidak pernah melihat ada orang yang pulih kembali seperti dia.”

Pencobaan Connolly dimulai di rumah sekitar jam 6 pagi tanggal 31 Januari 2009, saat ia mengalami arrhythmia — semacam korslet di otot jantung sehingga jantungnya berhenti berdetak tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Istri Connolly, Loris, terbangun mendengar suaminya tersedak. Ia melihat suaminya tersungkur di kursi, dengan semangkuk Raisin Bran di pangkuannya, di ruang tamu apartemen mereka.

Tidak mudah memindahkan Connolly yang berbobot sekitar 113 kg dengan tinggi 203 centimeters. Istrinya bahkan tidak dapat memindahkan Connolly dari kursi ke lantai.

“Ia betul-betul tidak sadar,” kenangnya. “Tidak ada denyut jantung. Tidak pula bernafas.”

Takut suaminya telah meninggal, ia menelpon 911 (gawat darurat). Menurut data NorthComm, panggilan datang jam 6:10 pagi, dan petugas paramedis tiba di alamat apartemen Shadowridge Drive jam 6:16.

Dr. Nielsen mengatakan bahwa saat petugas paramedis tiba, jantung Connolly tidak berdetak. Menurut data electrocardiogram yang direkam saat proses menyadarkan Connolly, para petugas telah melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation = tindakan medis darurat berupa pemompaan bagian dada serta bantuan pernapasan) dan memberi kejutan listrik sampai sekitar 35 menit, barulah jantung Connolly berdenyut lagi.

Tidak ada yang tahu pasti berapa lama otak Connolly tanpa oxigen, tapi Dr. Nielsen memperkirakan sedikitnya 10 menit. Jangka waktu demikian, katanya, umumnya mengakibatkan otak mengalami kerusakan hebat kalaupun pasien bisa sadar kembali. “Umumnya, kalau otak tanpa oxigen lebih dari 4 menit saja, maka otak akan mengalami kerusakan parah,” kata Dr. Nielsen.

Petugas paramedis mengantar Connolly yang dalam keadaan tidak sadar ke Tri-City Medical Center, dimana para dokter memutuskan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkannya adalah dengan proses hypothermia (membuat suhu tubuhnya di bawah suhu tubuh normal).

Para dokter membungkus tubuhnya dengan selimut pendingin khusus untuk menurunkan suhu tubuhnya dari 37° C ke 34° C. “Suhu dingin tersebut,” Dr. Nielsen menjelaskan, “dapat menghambat pembengkakan otak dan, dari hasil penelitian klinis, juga mengurangi kerusakan otak.”

Setelah 24 jam didinginkan, para dokter mencoba menyadarkan Connolly dari koma-nya, namun setiap kali mereka mencoba, setiap kali itu pula mereka gagal. “Kegagalan,” kata Dr. Nielsen, “biasanya menandakan bahwa pasien tidak akan pulih kembali.”

Keluarga Connolly mempersiapkan diri untuk menerima hal yang terburuk, namun tidak berhenti berdoa.

Connolly sadar beberapa hari kemudian.

Duduk di kamar perawatannya, Senin, Connolly berbincang-bincang dengan anggota keluarga dan bersenda gurau dengan para perawat, yang menyebutnya “Manusia Mukjizat.”

Ia bilang bahwa dadanya masih ngilu akibat proses CPR. “Merasakan keadaan tulang dada saya, rasanya saya amat beruntung,” katanya. “Bagian sini masih agak masuk, dan mungkin perlu waktu lama untuk kembali.”

Dalam 12 hari setelah ia sadar, Connolly sering merasakan kekejangan otot —- beberapa sangat hebat —-
namun berangsur-angsur reda, kata istrinya.

Loris Connolly mengatakan ia akan selalu mengenang saat-saat ia melihat suaminya kembali sadar. “Kini saya tahu arti kata PENGHARAPAN, itu adalah kata terindah yang saya pernah dengar,” katanya.

[Paul Sisson – http://www.nctimes.com/articles/2009/02/16/news/coastal/oceanside/z2c380328ce6aed428825755f007dcc90.txt%5D





Mengasihi Di Saat yang Tepat

16 02 2009

Robertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel, yang sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak.

Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya.

Namun pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya.

Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, “Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,”

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Tuhan Yesus yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!”

Pagi harinya, ketika Robetson berolah-raga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku…. sayangku…”, Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.
“Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya Muriel.

Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel berbisik, “Aku bahagia!” Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ibu atau mertua adalah tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu. Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Peliharalah mereka dengan kesabaran dan penuh kasih. (HK)