Nyanyian Seorang Kakak

30 04 2009

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA, tahun 1992. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen mempersiapkan Michael (3 tahun) anaknya yang pertama, menyambut kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen: “Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.”

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya yang sewaktu-waktu bisa dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami,… aku mau nyanyi buat adik kecil!”
Ibunya kurang tanggap. “Mami, ….aku pengen nyanyi!”
Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami, ….aku kepengen nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis.

Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!

Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. “Anak kecil dilarang masuk!”
Karen ragu-ragu. “Tapi, suster….”
Suster tak mau tahu: “Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!”
Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael
tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!”
Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya…… lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “…..You are my sunshine, my
only sunshine, you make me happy when skies are grey….”

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You
never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.”
Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan “Terus,….terus Michael! “Teruskan sayang!” bisik ibunya….
“The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands…..”
dan……sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang.

Pernapasannya lalu menjadi teratur…….. “I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same…….” Sang adik kelihatan begitu tenang …. sangat tenang.

“Lagi sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai……. lalu tertidur lelap.

Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati.

Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”, serta hati polos seorang anak kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Nyanyian tulus membawa mukjizat.

Iklan




Kisah Sepasang Telinga

23 04 2009

“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki  yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu sambil menangis. Ibunya tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu  terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan meski agak cacat. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.

Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu  ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah.

Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.

Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah…. bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.

Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.





Ketika Miss California Memilih

22 04 2009

Miss North Carolina Kristen Dalton sudah dinobatkan sebagai Miss USA 2009 dan akan mewakili AS dalam perhelatan ajang Miss Universe 2009. Namun, pertanyaan yang diajukan blogger seleb Perez Hilton terhadap Miss California Carrie Prejean menjadi berita utama.

Pada malam final 19 April 2009, juri Perez Hilton yang gay bertanya ke Carrie, “Vermont baru-baru ini melegalisasi perkawinan sesama jenis. Apakah Anda pikir setiap negara bagian harus mengikuti keputusan itu? Jika ya, mengapa, dan jika tidak mengapa?”

“Kita tinggal di negeri yang membolehkan Anda memilih perkawinan sejenis atau tidak,” jawab Carrie dalam acara tersebut. “Tapi keyakinan saya adalah pernikahan haruslah antara lelaki dan perempuan,” lanjut dia. “Saya tidak bermaksud menyerang siapapun, tapi saya dibesarkan dengan keyakinan itu.”

Pernyataan itu menghasilkan tepuk tangan meriah sekaligus cercaan dari penonton (sebagian undangan acara ini adalah dari kalangan selebriti yang pro gay). Usai pertunjukan, Carrie Prejean mengatakan: “Saya tak mungkin berkata lain. Saya mengatakan apa yang saya rasakan. Saya memberikan pendapat yang menurut saya benar. Dan itulah yang saya lakukan.”

Perez Hilton mengatakan dia sangat terkejut dengan jawaban Carrie yang menurutnya tidak mengindahkan jutaan warga gay dan lesbian Amerika, keluarga mereka dan pendukung mereka. “Dia kalah karena jawabannya itu. Sebelum pernyataan itu, dia adalah kandidat juara,” kata Perez kepada ABC News. “Seharusnya dia tidak membawa-bawa politik dan agamanya karena Miss USA mewakili seluruh Amerika.”

Keith Lewis, Co-Executive Director dari Miss California USA dan Miss California Teen USA dalam sebuah pernyataan tertulis mengkritik komentar Carrie Prejean. “Sebagai penyelenggara Miss California USA, secara pribadi saya sedih dan terkejut mendengar pendapat Miss California tersebut,” katanya seperti dikutip BBC.

Isu pernikahan sesama jenis hingga kini masih menjadi kontroversi di kancah politik Amerika. Empat negara bagian Amerika saat ini sudah mengizinkan pernikahan sejenis. Namun banyak negara bagian lain mengeluarkan undang-undang yang menentang pernikahan sejenis.

Carrie Prejean (yang menjadi juara kedua) mengatakan dia tetap pada pendapatnya bahwa pernikahan sesama jenis adalah salah, walaupun pernyataannya itu menyebabkannya kehilangan mahkota Miss USA 2009. “Saya tidak akan menarik pernyataan saya,” kata Carrie, sambil menambahkan bahwa dia “berbicara dari hati saya, keyakinan saya dan untuk Tuhan saya.” “Bagi saya, yang penting bukanlah bagaimana benar secara politis ,” katanya, “tapi bagaimana benar menurut alkitab.”

Berita ini mengingatkan kita pada Nikodemus. Nikodemus cukup berani menentang arus. Selagi teman-temannya sesama Farisi mati-matian mencari masalah yang dapat didakwakan kepada Yesus, Nikodemus malahan membela Yesus. Memang sejarah mencatat pada akhirnya Nikodemus akan dikucilkan dan menjadi miskin karena imannya itu. Tetapi keberaniannya itulah yang dapat menjadi teladan bagi kita.

Banyak orang mencari “aman” dan bukan “amin” atas janji-janji Tuhan ­- artinya asal posisinya aman. Berarti ia membiarkan saja walaupun terjadi ketidakadilan. Tetapi sebagai pengikut Allah yang benar, kita harus berani menyatakan kebenaran walaupun risiko yang akan ditanggung cukup besar, bahkan nyawa taruhannya.

Perbuatan yang penuh risiko ini pernah dilakukan oleh Rahab. Walaupun kotanya diintai oleh musuh, dengan berani ia malahan menyembunyikan pengintai itu di rumahnya. Kalau ketahuan, ia bisa dikeroyok orang sekota. Tetapi ia tidak takut dengan risiko itu. Tuhan menghargai pengorbanannya sehingga Alkitab mencatat, “Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho” (Yos. 6:25). Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan “penghargaan” sebagai salah satu nenek moyang yang melahirkan Yesus secara daging.

Saudara, kita perlu bersikap berani dalam hal membela kebenaran. Bersikap, berbicara, berpikir, dan bertindak berani melakukan kebenaran adalah modal utama kita untuk memuliakan Bapa di surga. Alkitab menyebut kita dengan rajawali, bukannya anak ayam, sebab rajawali adalah raja burung yang ditakuti di angkasa. Keperkasaannya menjadi legenda dan cerita yang tak henti-hentinya disampaikan manusia. Kalau kita masih bersikap pengecut, bagaimana mungkin kita disebut dengan rajawali? Tidak ada rajawali yang bertindak pengecut.

Sekarang, beranikah kita menentang arus untuk membela kebenaran? Marilah kita tegakkan kebenaran di antara dunia yang penuh dengan ketidakadilan ini. Kebenaran tidak akan menjadi kebenaran bila tidak ditunjukkan.





Garuda Flight No. GA603

18 04 2009

Peristiwa ini terjadi di pesawat Garuda flight No. GA603 rute Manado-Makassar-Jakarta.
Ada 1 penumpang… orang Manado yg baru pertama kali naik pesawat, duduk di seat 20A (economy class) udah agak di belakang. Dia naik dari Manado dan tidak ada masalah. Pada saat transit di Makassar, dia turun dari pesawat melalui pintu depan sehingga melewati kompartmen kelas Bisnis. Mungkin dia perhatikan perbedaan kelas bisnis dan ekonomi dari ukuran besarnya kursi. Nah pada saat boarding lagi dari Makassar, si Alo (nama orang Manado itu) naik ke pesawat, duduk di seat no.1F (bussines class paling depan lagi….).

Kemudian ada seorang Cabin Crew menghampirinya:
Cabin Crew: “Selamat Sore Pak.”
Oom Alo: “Selamat Sore Nona …..”
Cabin Crew: “Mohon Maaf pak, bisa lihat Boarding Passnya ?”
Oom Alo: “Oh… kita nen tau apa itu koa. Ngana minta apa ??”
Cabin Crew: “Maaf pak, saya mau lihat potongan pass naik, berupa kertas. Mungkin ada di tiket yang bapak pegang.”
Oom Alo: “Oh.. kalo teket ada nooo…. ngana mo lia ?? sabar ne…”

Alo ambil tiketnya di kantong celana, kemudian diberikan ke Cabin Crew.
Cabin Crew: “Oh Maaf pak, tempat bapak bukan disini, tapi di belakang, tepatnya no 20A, di kelas ekonomi. Mohon maaf pak, mari saya antar ke tempat duduk bapak.”
Oom Alo: “Nimau !!!!!! kita mo dudu disini…. kita suka dudu disini!!!”
Cabin Crew: “Maaf pak.. tapi bapak bayarnya untuk economy class, sementara yg disini buat yang bayar tiket bussines class.”
Oom Alo: “Itu ngana pe urusan…. bukan kita pe urusan noo…. yang kita tau…kita so bayar teket.. kong kita mau dudu di muka sini. Pigi sana …. bajauh jo ngana……! !!!!”

Si Cabin Crew tetap dengan ramahnya menjelaskan ke Om Menado, tetapi si Om tetap bakras alias ngotot gak mau pindah. Akhirnya karena penumpang sudah pada naik semua dan pintu pesawat akan ditutup namun si Alo tetap gak mau pindah, maka melaporlah si cabin crew ke PIC (Pilot in Command).

Si pilot yg kebetulan orang Ambon (fam-nya Tapillalu, klo tdk salah…) trus keluar untuk ketemu dgn Alo.
Pilot: “Oom… selamat sore om…. Apa kabar Oom ??”
Oom Alo: “Selamat sore…” (tapi tetap tidak tersenyum)
Pilot: “Oom dapa lia gagah skali doe, mau berangkat ke mana Oom??”
Oom Alo: “Jakarta. Ngana orang Manado ???”
Pilot: “Bukan Oom….. beta orang Ambon …. Tapi Oom … beta ada mau bilang …. kalo mau ke Jakarta musti dudu di belakang Oom.”
Oom Alo: “Oh ?? Begitu ka?? Kong dorang yg dudu di muka ini mau pigi mana?”
Pilot: “…Kalo yang di muka sini Oom… itu mau bale ulang ke Manado.”

Si Alo capat-capat berdiri trus pindah tempat sambil bicara ke Cabin Crew: “Kiapa ngoni nda kase tau dari tadi, klo yg di muka mau bale ke Manado? Kita rugi no.. klo su beli teket dari Manado mau pigi jakarta… maar dapa bale ulang ke Manado”.





Pelajaran dari Susan Boyle

17 04 2009

Pernahkah anda merasakan dunia terkadang teramat kejam pada perempuan setengah baya, datang dari keluarga sederhana di daerah terpencil, tak dikenal, tak menarik, dan tak berprofesi. Dunia menertawakan perempuan semacam itu apalagi perempuan semacam itu yang masih menyisakan impian menjadi penyanyi.

susanboyleTapi Susan Boyle tak gentar, ia hendak membuktikan bahwa usianya yang ke-47 tak akan membuyarkan mimpi-mimpinya meskipun Simon Cowell si beken dari American Idol pun sinis dan pesimis dengan penampilannya. Bukankah Susan tak pernah menyanyi di depan banyak orang, tak pernah memenangkan piala apapun, tak pernah kursus apapun? Apalagi Susan memang pemalu dan hidupnya ia dedikasikan untuk merawat ibunya yang akhirnya meninggalkan dirinya pula. Ia hanya menyanyi di depan ibunya dan kadang di gereja di desanya yang kecil, Blackburn, West Lothian, Scotland.

Lalu mengapa ia nekat mengikuti panggung acara “Britain’s Got Talent” (semacam American Idol)? Ia mengaku hanya melakukan ini untuk ibunya yang selalu mendukungnya menyanyi. Selain itu, ia juga ingin membuktikan pada dunia bahwa orang semacamnya juga memiliki mimpi-mimpi.

Setelah penampilannya di panggung, ia berkata: “Masyarakat moderen sangat cepat untuk menghakimi orang hanya berdasarkan penampilannya. Tak banyak yang bisa kita lakukan untuk merubah mereka karena begitulah cara mereka berfikir, begitulah mereka adanya. Tapi mungkin saya bisa memberikan mereka sebuah pelajaran, atau paling tidak contoh.” [Gadis Arivia]

Baca juga di:
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/17/06582577/quotpesonaquot.susan.boyle
http://www.tvguide.com/News/Britains-Got-Talent-1005126.aspx?imw=Y
http://newsroom.mtv.com/2009/04/16/susan-boyles-world-domination-continues-on-cbs-early-show/

Video di: