Diam Bersama Tuhan

20 10 2009

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Konon, segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah. Hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun.

Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi. Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali memberitahunya, bahwa uang itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara.

Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun
bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?”

“Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung itu dimaksudkan untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersukacita.





Bintang Kecil

10 10 2009

Alkisah ada dua bintang di langit yang hidup berdampingan. Yang satu disebut ‘bintang besar’ karena dia berukuran besar. Dan yang satunya lagi disebut ‘bintang kecil’.

Pada suatu hari ada satu planet yang datang kepada si bintang besar. “Hai, bintang besar, aku sangat kedinginan. Bolehkah aku duduk didekatmu agar tubuhku hangat?”. Jawab si bintang besar, “Tidak boleh! Aku tidak mau membagi energiku denganmu.”

Si planet sedih mendengar jawaban si bintang besar, tetapi si bintang kecil melambai kepadanya, “Kemarilah teman, duduklah denganku, aku akan menghangatkanmu.” Mendekatlah si planet ini kepada si bintang kecil. Dan mereka menjadi teman. Si planet tidak lagi kedinginan.

Lalu keesokannya datang lagi satu planet kepada si bintang besar. “Bintang besar, bolehkah aku duduk dekatmu supaya tubuhku hangat karena aku sangat kedinginan disini?”. “Tidak! Pergilah! Jangan ganggu aku”, jawab si bintang besar.

Dengan tubuh menggigil kedinginan, si planet berjalan menjauhi si bintang besar. Tapi si bintang kecil memanggilnya, “Hai, teman! Maukah kau duduk disampingku supaya tubuhmu hangat? Kemarilah!” dan datanglah planet itu kepada si bintang kecil dan rasa dinginnya hilang oleh karena kehangatan cahaya si bintang kecil.

Keesokkannya lagi, datang tujuh planet kepada si bintang besar, menyampaikan permintaan yang sama dengan kedua planet sebelumnya. Lagi-lagi si bintang besar menolaknya. Si bintang besar tidak mau diganggu. Dia ingin kehangatannya hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi si bintang kecil mengajak tujuh planet ini untuk duduk bersama-sam dengan dia.

Sekarang ada sembilan planet yang berkawan dengan si bintang kecil ini. Si bintang kecil dengan sukacita dan penuh kasih membagikan kehangatan cahayanya kepada teman-teman barunya. Apakah dengan membagi kehangatannya maka si bintang kecil menjadi redup? Apakah ia kehilangan sinar dan kehangatannya? TIDAK!

Justru dengan berbagi, bertambahlah cahaya yang ia punya. Dengan berbagi, dia menjadi besar oleh karena cahayanya bertambah. Dan yang penting adalah dia mempunyai banyak teman. Mereka bermain bersama, bergembira bersama dan mengalami sukacita yang luar biasa. Si bintang kecil bahagia karena bisa memberi kehangatannya untuk planet-planet itu dan planet-planet itu bahagia karena mereka tidak kedinginan lagi. Sedangkan si bintang besar menjadi redup dan kian menghilang cahayanya. Tidak ada lagi kehidupan pada bintang besar. Ia tidak punya kawan, karena dia egois.

Nah, bagaimana dengan kehidupan kita? Kita hidup seperti bintang besar atau bintang kecil? Apakah kita mau membagikan setiap berkat yang sudah Tuhan berikan pada kita? Atau apakah kita hanya menyimpan setiap berkat itu hanya untuk diri kita sendiri?

Sebagai anak-anak Allah, pasti kita tahu bahwa Allah ingin menjadikan kita anak-Nya penuh kasih. Ada ungkapan bahwa kita bisa memberi tanpa mengasihi, tapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi.

Allah sangat mengasihi kita sehingga Dia memberi begitu banyak berkat untuk kita bahkan AnakNya pun diberikan untuk menggantikan kita di kayu salib.

Allah adalah Kasih. Kasih itu tidak sombong dan tidak mementingkan diri sendiri. Allah sendiri telah memberi teladan kasih karena itu patutlah kita meneladaniNya.

Jadi marilah kita mulai memperlihatkan ciri khas hidup anak-anak Allah yang sesungguhnya yaitu saling mengasihi dengan kasih yang tulus seperti yang telah dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sebagai teladan kita.

[Sumber: http://airhidup.com/Article.cfm?ArticleID=495&Ref=Article%5D





Kisah Perangkap Tikus

1 10 2009

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja.
Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”

mousetrapTernyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ”Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”

Ia mendatangi ayam dan berteriak ”Ada perangkap tikus”. Sang Ayam berkata ”Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata ”Aku turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ”Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, ”Ahhh…perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang
terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya (sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan
akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman, sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk
memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan…sang Tikus yang tinggal sendiri menatap dengan penuh kesedihan.

“Dalam lingkungan, semua berkaitan”

[sumber : Nazaro – AcehForum]