Egg

25 11 2009

egg

If an egg is broken from outside force, life ends.
If an egg is broken from inside force, life begins.
Great things always begin from our inside…

Iklan




Pakis dan Bambu

19 11 2009

Suatu Hari aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku, aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya.

“Tuhan”, kataku. “Berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?”
Dia memberi jawaban yang mengejutkanku.
“Lihat ke sekelilingmu” , kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?”
“Ya”, jawabku.

Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat, warna hijaunya yang menawan menutupi tanah namun, tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”

“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”

“Dalam tahun ketiga tetap tidak Ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah, begitu juga dengan tahun ke empat. ”

“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis, tunas itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani. ”

“Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. ”

Tuhan berkata “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”

“Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadaku. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi”
“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyaku.
“Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya.
“Setinggi yang mereka mampu?” aku bertanya.
“Ya.” jawabNya, “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadap Ku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap anda. Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-Hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.





Bejana Pilihan

9 11 2009

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia – manakah yang akan terpilih?

“Pilihlah saya”, teriak bejana emas, “saya mengkilap dan bercahaya. Saya sangat berharga dan saya melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan saya akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujiMu.”

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga. Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini!” teriak bejana itu, “saya tahu saya akan terpilih. Taruhlah saya di mejamu, maka semua orang akan memandangku.”

“Lihatlah saya,” panggil bejana kristal yang sangat jernih. “Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya saya. Meskipun saya mudah pecah, saya akan melayani engkau dengan kebanggaan saya. Dan saya yakin, saya akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu.”

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. “Engkau dapat memakai saya, Tuanku,” kata bejana kayu. “Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”

Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan retak, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.

“Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakKu.”

Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaikinya, membersihkannya dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya. “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan: Jadilah berkat bagi orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.”

[Sumber: http://www.airhidup.com]





Hadiah Buat Mama

2 11 2009

Empat orang pria bersaudara meninggalkan rumah mereka untuk kuliah, dan mereka menjadi dokter dan pengacara yang sukses dan kaya raya.

Beberapa tahun kemudian mereka ngobrol setelah makan malam bersama. Mereka membicarakan hadiah-hadiah yang mereka mampu berikan kepada ibunda mereka yang sudah tua dan tinggal di kota lain yang jauh.

Anak sulung berkata, “Saya telah membangun rumah besar buat Mama.”

Anak kedua berkata, “Saya sudah membangun home theatre seharga $ 100 ribu di dalam rumah itu.”

Anak ketiga berkata, “Saya sudah membelikan sebuah sedan Mercedes SL 600 untuk Mama.”

Anak keempat berkata, “Kalian tahu betapa mama suka membaca Alkitab dan kalian tahu bahwa dia tidak dapat membaca lagi karena pandangannya yang sudah kabur. Saya bertemu dengan seorang pengkhotbah yang menceritakan kepada saya tentang seekor burung beo yang dapat mengutip seluruh isi Alkitab. Hal ini memerlukan dua puluh pendeta untuk melatih burung itu selama 12 tahun. Saya sudah berkomitmen untuk menyumbang $ 100 ribu ke gereja itu selama dua puluh tahun, dan saya rasa hal itu merupakan harga yang pantas. Mama hanya perlu menyebutkan pasal dan ayatnya saja, maka burung itu akan mengucapkan firman Tuhan yang dimaksud.”

Saudara-saudara yang lain begitu terkesan.

Setelah hari liburan Mama mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada mereka semua.

Ia menulis: “Milton, rumah yang kamu bangun itu demikian besar. Mama hanya perlu satu kamar, tetapi Mama harus membersihkan seluruh rumah. Meskipun demikian, terima kasih.”

“Marvin, Mama terlalu tua untuk bepergian dengan sedan itu. Mama lebih suka tinggal di rumah. Mama biasa menyuruh petugas supermarket mengirimkan bahan-bahan makanan yang diperlukan ke rumah, sehingga Mama tidak pernah menggunakan sedan mahal itu. Kepedulianmu bagus, terima kasih.”

“Michael, kamu memberi Mama sebuah teater yang mahal dengan Suara Dolby, yang dapat menampung lima puluh orang, tetapi semua sahabat Mama sudah pada mati. Mama sudah kehilangan pendengaran dan Mama hampir buta. Mama tidak pernah memakai teater itu. Terima kasih atas perhatianmu.”

“Melvin tersayang, kamu adalah satu-satunya anak yang sangat penuh pertimbangan dalam memberikan hadiah. Ayam itu lezat sekali, sudah Mama makan. Terima kasih ya.”

Luv Ya, Mama





Filosofi pensil

2 11 2009

pencilSeorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat:
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?”

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti.”

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai:
“Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab: “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

“Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”

“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”

“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk meggunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”

“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya,melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal -hal di dalam dirimu.”

“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan