Pantang Menyerah

30 08 2010

Seekor bebek jantan telah membuktikan bahwa dia kuat, setelah mengambil risiko dengan kembali ke kolam favoritnya, hanya satu minggu setelah amputasi sayap.

Charlie, sang bebek, menderita cedera sayap yang parah setelah ditembak ketika berenang di kolam. Bebek ini dijemput staf Downland Open Air Museum (Singleton, West Sussex) dan dibawa ke Klinik Bedah Hewan Grove Lodge di Worthing. Cedera yang dialaminya sangat parah sehingga dokter hewan tidak memiliki pilihan selain harus mengamputasi sayapnya.

Pejabat senior penyelamatan hewan, Billy Elliott, mengatakan bahwa operasi ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi bebek jantan ini tampaknya tidak akan menderita tanpa sayap lainnya.

“Kami tidak dapat melakukan ini ke bebek liar karena bebek dengan satu sayap tidak akan bertahan di alam liar. Tetapi tampaknya bebek ini mempunyai kualitas hidup yang baik, jadi kami berikan bebek ini kesempatan,” katanya.

“Bebek ini seperti mendapat rumah pribadi sendiri di sini, dan tampaknya bebek ini baik-baik saja, bahkan bebek ini menjadi selebriti sekarang ini.”

Wah . . . bebek aja pantang menyerah dalam menjalani hidup . . .
manusia jangan kalah dong. . .

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1187334/In-flap-Charlie-winged-Drake-returns-water-having-shot-wing-amputated.html





Mengapa Lalat Susah Dipukul?

19 07 2010

Sudah berapa kali anda berhasil memukul lalat dengan tangan? Susah ‘kan? Rahasia di balik kemampuan tersebut kini telah diketahui penjelasannya.

Setelah 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) memecahkannya rahasia itu. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya.

“Sekarang saya punya jawabannya,” ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.

Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otaknya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.

Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya.

“Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai,” ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman. Artinya, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.

“Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya,” ujarnya.

Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik.

[Sumber: http://unikseru.blogspot.com/2010/05/mengapa-lalat-susah-dipukul.html%5D





Pelangi… pelangi

19 06 2010

Ternyata pelangi ada beberapa jenis, sbb:

Classic Rainbows
Pelangi klasik terdiri dari enam warna: merah, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu, berbentuk busur (melengkung). Intensitas warna dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer dan waktu (berapa lama sesudah hujan).

Circular Rainbows
Pelangi itu benar-benar terlihat seperti lingkaran sempurna (dengan radius tepat 42 derajat, menurut Descartes), meskipun melihat pelangi ini sulit karena biasanya terhalang oleh tanah.

Secondary Rainbows
Pelangi (primer) adakalanya disertai dengan pelangi sekunder (pelangi kedua) yang biasanya lebih tipis dan redup daripada pelangi primer. Pelangi sekunder terkenal dengan karakteristik tertentu: spektrum ditampilkan dalam urutan terbalik dari sebuah pelangi primer.

Fogbows
Fogbows (=busur kabut) lebih jarang terlihat daripada pelangi karena berbagai parameter tertentu yang harus sesuai agar fogbow dapat tercipta. Misalnya, sumber cahaya harus berada di belakang pengamat dan membumi. Juga, kabut di belakang pengamat harus sangat tipis sehingga sinar matahari yang dapat bersinar menembus kabut tebal di depan.

Fire Rainbows
Pelangi ini bukan terbuat dari api, nama yang benar untuk efek optik yang indah ini adalah “circumhorizontal arc”. Fenomena ini hanya dapat dilihat dalam kondisi spesifik tertentu yaitu awan cirrus, yang bertindak seperti prisma harus setidaknya berada di ketinggian 20.000 kaki dan matahari harus menyorot ketika mereka berada di ketinggian 58-68 derajat. Rainbow Fire tidak pernah terlihat di lokasi lebih dari 55 derajat utara atau selatan.

[Sumber: http://unikseru.blogspot.com/2010/05/beberapa-jenis-pelangi.html%5D





Singa Bule

18 06 2009

singa_bule1





Durian Merah

16 03 2009


Durian berdaging merah ini merupakan durian liar yang ditemukan di hutan Kalimantan.

Sama halnya dengan durian lainnya, durian ini mempunyai kulit berduri dan aroma durian yang sangat khas dan menyengat.

Yang membuatnya berbeda adalah warna dari daging buahnya yang berwarna merah.

[Sumber: National Geographic]