Pantang Menyerah

30 08 2010

Seekor bebek jantan telah membuktikan bahwa dia kuat, setelah mengambil risiko dengan kembali ke kolam favoritnya, hanya satu minggu setelah amputasi sayap.

Charlie, sang bebek, menderita cedera sayap yang parah setelah ditembak ketika berenang di kolam. Bebek ini dijemput staf Downland Open Air Museum (Singleton, West Sussex) dan dibawa ke Klinik Bedah Hewan Grove Lodge di Worthing. Cedera yang dialaminya sangat parah sehingga dokter hewan tidak memiliki pilihan selain harus mengamputasi sayapnya.

Pejabat senior penyelamatan hewan, Billy Elliott, mengatakan bahwa operasi ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi bebek jantan ini tampaknya tidak akan menderita tanpa sayap lainnya.

“Kami tidak dapat melakukan ini ke bebek liar karena bebek dengan satu sayap tidak akan bertahan di alam liar. Tetapi tampaknya bebek ini mempunyai kualitas hidup yang baik, jadi kami berikan bebek ini kesempatan,” katanya.

“Bebek ini seperti mendapat rumah pribadi sendiri di sini, dan tampaknya bebek ini baik-baik saja, bahkan bebek ini menjadi selebriti sekarang ini.”

Wah . . . bebek aja pantang menyerah dalam menjalani hidup . . .
manusia jangan kalah dong. . .

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1187334/In-flap-Charlie-winged-Drake-returns-water-having-shot-wing-amputated.html





Upacara Bendera Secara Digital

18 08 2010

Enam belas ribu pengunjung berhasil mengikuti upacara bendera secara digital yang dilaksanakan di http://www.indonesiaoptimis.org, 17 Agustus 2010 lalu. Kegiatan ini merupakan sebuah gagasan yang sangat revolusioner dari sekelompok anak muda Yogyakarta yang bernama Indonesia Optimis.

“Pada tanggal 16 Agustus kami memulai memperkenalkan aksi ini melalui Twitter dengan dibantu oleh banyak teman teman yang aktif di jejaring sosial, komunitas IT, portal komunitas dan ke berbagai mailing list. Ketika 17 Agustus 2010 jam 07.00 WIB pengunjung sudah mulai bisa secara interaktif mengikuti prosesi upacara yang dijalankan oleh perintah setiap pengunjung dengan cara menekan icon berupa petugas upacara,” kata kelompok ini menjelaskan awal aksi ini diadakan. “Kami memilih jejaring sosial dan internet dikarenakan memang generasi muda yang kami targetkan terkena pesan ini selalu ada di sana dan sangat aktif, di mana kita ketahui bahwa pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia sangat besar dan bahkan Facebook mencapai terbesar di Asia.”

“Admin sudah bersiap dari dini pagi hari ini, menyapu lapangan agar bersih, menyetrika bendera, melatih para pasukan #UpacaraBendera digital” ketika waktu sudah mendekati waktu Upacara. “Hari ini, setiap orang bergadang u/ membuat #Indonesia65 terus naik sbg Trending Topic, u/ mengatakan pada dunia “KAMI ADA DAN MAJU” Tidak ada kata menyerah untuk membela bangsa kita.”

Upacara Digital ini dimulai tepat pukul 10.00 WIB sesuai dengan instruksi yang ada. “09 : 55 > Ternyata http://indonesiaoptimis.org/ total pengunjung 10.482. Tim Paskibraka menyiapkan mental”.

“Yang paling unik di era digital ini kami mengangkat demokratisasi dengan adanya 3 pembina upacara yang bebas dipilih dan didengarkan amanatnya yaitu Iwan Esjepe seorang aktivis Indonesia Bertindak, Pandji Pragiwaksono seorang pemuda aktif di #IndonesiaUnite dan sering menulis lagu serta tulisan yang membangkitkan semangat nasionalisme dengan bahasa anak muda, serta tidak ketinggalan seorang blogger terkenal dengan nama Ndorokakung yang acap menulis berbagai kejadian di sekitar kita dengan kacamata yang berbeda,” kata kelompok ini menjelaskan lebih lanjut.

“Dan yang luar biasa karena ini ditunjang oleh Twitter yang berbasis teks maka imajinasi bisa luar biasa berkembang, di mana setiap peserta membayangkan suasana pada saat dahulu mengikuti upacara bendera, sehingga di timeline banyak sekali muncul celetukan seperti “Bu Guru sebelah saya mau pingsan”, “Wah pemimpin upacaranya ganteng”, “Enakan jadi P3K aja biar bisa dapet tempat teduh”, “Merinding mau pengibaran bendera nih” Komentar-komentar tersebut memang pernah terjadi dahulu.”

Lonjakan pengunjung sempat membuat server menjadi tidak diakses, namun pengibaran tetap berjalan dengan khidmat. Pada situs tersebut bukan hanya ada tampilan upacara saja, tapi juga lagu-lagu, pembacaan Pancasila, pengibaran bendera (YouTube), dan tidak ketinggalan rekaman pembacaan teks Proklamasi oleh Bung Karno.

Sumber: http://ictfiles.com/detail/Web_Technology/2010/08/18/upacara_bendera_digital dan http://chip.co.id/articles/news/2010/08/19/upacara-bendera-cara-digital-di-indonesia-optimis/





Piala Dunia 2010

16 06 2010

Piala Dunia (sepakbola) 2010 dimulai di Afrika Selatan tanggal 11 Juni 2010 yang lalu. Namun, karena prestasinya, Indonesia masih harus bersabar untuk tampil di ajang tersebut. Meski demikian, ada satu pemain berdarah Indonesia yang berlaga di ajang akbar sepakbola itu, namanya Giovanni Christiaan van Bronckhorst.

“Saya lahir di Rotterdam, ayah saya datang dari Indonesia dan mama saya orang Maluku,” demikian kata Gio  (dibaca “jo”), yang menjadi kapten tim Belanda. [Perjalanan karirnya dapat dilihat di Wikipedia]

Ternyata selain dia, masih ada beberapa pemain-pemain sepak bola berbakat keturunan Indonesia di manca negara. Mereka bergabung dalam berbagai klub, namun sebagian besar di Belanda.

Di bawah ini, beberapa nama yang sempat tercatat:

  • Irfan Bachdim, yang sekarang bermain untuk FC Uthrect Junior
  • Donovan Partosoebroto, kiper andalan tim Ajax junior
  • Lucien Sahetapy, pemain dengan posisi bek tengah ini pada awalnya bermain di klub Groningen, lalu pindah ke tim Divisi 1 Liga Belanda, BV Veendam
  • Raphael Tuankotta, memperkuat BV Veendam Junior
  • Estefan Pattinasarany, di AZ Alkmaar Junior
  • Michael Timisela, pemain kelahiran Paramaribo, Suriname ini telah menembus masuk ke tim utama Ajax
  • Christian Supusepa, kini memperkuat tim Ajax Junior
  • Justin Tahapary, di FC Eindhoven
  • Marvin Wagimin, tim VVV-Venlo di Divisi 1 Liga Belanda
  • Peta Toisuta, memperkuat tim Zwolle di liga Belanda
  • Tobias Waisapy, tim Feyenord Junior
  • Jefrey Leiwakabessy, bek kiri kelahiran Arnhem ini sejak tahun 1998 telah memperkuat NEC Nijmegen, dan sempat mencicipi Timnas Junior Belanda
  • Raymon Soeroredjo, memperkuat tim Vitesse Junior
  • Yoram Pesulima, bek kiri tim Vitesse Junior
  • Raphael Supusepa, gelandang kiri yang lahir di kota Wormerveer ini kini memperkuat tim MVV Maastricht. Pemain jebolan Ajax ini sebelum bermain di MVV sempat bermain di tim Excelsior dan Dordrecht
  • Levi Risamasu, pemain kelahiran Nieuwerkerk ini pernah memperkuat NAC Breda selama 4 musim sebelum pindah ke tim AGOVV Divisi 1 Liga Belanda
  • Marciano Kastoredjo, gelandang yang juga bisa berperan sebagai bek kiri ini sebelum bergabung bersama tim De Graafschap pernah bergabung bersama tim Utrecht Junior
  • David Ririhena, bek ataupun gelandang kiri mampu dijalani oleh pemain yang kini memperkuat TOP Oss di divisi satu Liga Belanda
  • Joas Siahaija, gelandang tengah kelahiran Maastricht ini kini memperkuat kota kelahirannya, MVV
  • Radja Nainggolan bermain di Piacenza Primavera, pinjaman dari tim Germinal B di Liga Belgia
  • Ignacio Tuhuteru, kini memperkuat Go Ahead Eagles. Sebelumnya pemain jebolan Ajax Junior ini sempat malang melintang di beberapa klub seperti RBC Roosendaal, Dalian Shide China, Sembawang Singapura, Zwolle, Heerenveen, dan FC Groningen.
  • Ferdinand Katipana, pemain kelahiran Amersfoort ini sebelum bergabung bersama Haarlem, sempat bergabung di tim Utrecht Junior dan Cambur Leeuwarden
  • Jajang Mulyana, sekarang sedang bergabung bersama Boavista (klub divisi III Liga Brazil)
  • Febrianto Wijaya, yang bergabung di klub anggota Bundesliga Jerman, VfB Stuttgart
  • Irvin Museng, yang pernah menjadi top skorer Danone Cup di Prancis tahun 2005 sehingga diterima di tim yunior Ajax Amsterdam. Ia kemudian balik ke PSM Makassar, dan sekarang bermain untuk Pro Duta Bandung di Divisi Utama Liga Indonesia.




Pelayan Hotel

10 08 2009

Bertahun-tahun yang lalu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

“Dapatkan anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami.
Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata.

“Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur
dengan nyaman malam ini.”

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.

Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan,
“Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Tiba di New York, dia menemui laki-laki tua tersebut yang lalu membawamya ke perempatan Fifth Avenue and 34th Street. Sang laki-laki tua menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.

“Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.
“Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.
“Saya jamin, saya tidak bercanda,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama hotel tersebut adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawanya menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah…… .. perlakukanlah semua orang dengan kasih, murah hati dan hormat, dan anda tidak akan gagal.





57 sen

24 07 2009

Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena “sudah terlalu penuh”. Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis, “Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu” kata si gadis kecil.

Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil.

Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaan nya, sehingga pada waktu sebelum tidur di malam itu, ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.

Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu, si gadis kecil “berkawan” dengan sang pastur. Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya didaerah kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah.

Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya: “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu”

Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uangnya sampai terkumpul sejumlah 57 sen untuk maksud yang sangat mulia.

Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.

Namun ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus-menerus. Sampai akhirnya seorang pengembang real-estate membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 sen, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu.

Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu (pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton).

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Saat ini, jika anda berada di Philadelphia, lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu-ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus-ratus (yah, beratus-ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah MInggu.

Didalam salah satu ruangan bangunan ini, tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 sen, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu, yaitu pastor DR. Russel H.Conwell penulis buku “Acres of Diamonds”.