Pantang Menyerah

30 08 2010

Seekor bebek jantan telah membuktikan bahwa dia kuat, setelah mengambil risiko dengan kembali ke kolam favoritnya, hanya satu minggu setelah amputasi sayap.

Charlie, sang bebek, menderita cedera sayap yang parah setelah ditembak ketika berenang di kolam. Bebek ini dijemput staf Downland Open Air Museum (Singleton, West Sussex) dan dibawa ke Klinik Bedah Hewan Grove Lodge di Worthing. Cedera yang dialaminya sangat parah sehingga dokter hewan tidak memiliki pilihan selain harus mengamputasi sayapnya.

Pejabat senior penyelamatan hewan, Billy Elliott, mengatakan bahwa operasi ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi bebek jantan ini tampaknya tidak akan menderita tanpa sayap lainnya.

“Kami tidak dapat melakukan ini ke bebek liar karena bebek dengan satu sayap tidak akan bertahan di alam liar. Tetapi tampaknya bebek ini mempunyai kualitas hidup yang baik, jadi kami berikan bebek ini kesempatan,” katanya.

“Bebek ini seperti mendapat rumah pribadi sendiri di sini, dan tampaknya bebek ini baik-baik saja, bahkan bebek ini menjadi selebriti sekarang ini.”

Wah . . . bebek aja pantang menyerah dalam menjalani hidup . . .
manusia jangan kalah dong. . .

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1187334/In-flap-Charlie-winged-Drake-returns-water-having-shot-wing-amputated.html





Aku Memohon Tuhan

1 06 2010

Aku memohon Tuhan untuk melepaskan tabiatku
Tuhan menjawab: Tidak !
Bukan Aku yang melepaskan, tetapi kamu yang harus menghentikannya

Aku memohon Tuhan mengutuhkan kembali anakku yang cacat
Tuhan menjawab: Tidak !
Rohnya utuh, tubuhnya hanya sementara

Aku memohon Tuhan untuk memberikanku kesabaran
Tuhan menjawab: Tidak !
Kesabaran adalah hasil perjuangan. Itu tidak diberikan, tetapi dipelajari

Aku memohon Tuhan untuk memberiku kebahagiaan
Tuhan menjawab: Tidak !
Aku memberikan berkatKu. Kebahagiaan tergantung padamu

Aku memohon Tuhan untuk menghilangkan kepedihanku
Tuhan menjawab: Tidak !
Penderitaan menjauhkanmu dari dunia dan membawamu lebih dekat padaKu

Aku memohon Tuhan untuk membuat jiwaku tumbuh
Tuhan menjawab: Tidak !
Kamu yang harus menumbuhkannya sendiri ! Tetapi Aku akan menatanya agar kamu lebih berbuah

Aku memohon Tuhan untuk menolongku mengasihi sesama, seperti Engkau mengasihiku
Tuhan menjawab:
Ahhh, akhirnya kamu tahu maksudKu !





Tiga Hal

10 05 2010

3 hal yang membuat kita kuat:
• IMAN
• PENGHARAPAN
• KASIH

3 hal yang tidak akan dilupakan:
• CINTA
• KEJUJURAN
• PERSAHABATAN

3 hal yang tidak pernah kembali:
• WAKTU
• PERKATAAN
• KESEMPATAN

3 hal yang menghancurkan:
• KEMARAHAN
• KESOMBONGAN
• KESERAKAHAN

3 hal yang tidak boleh hilang:
• KASIH
• SUKA CITA
• DAMAI SEJAHTERA

3 hal yang membuat kita dewasa:
• KESABARAN
• KETULUSAN
• RASA SYUKUR

3 hal yang tidak pernah kekal:
• HARTA
• JABATAN
• CINTA MANUSIA

3 hal yang membuat kita berharga:
• KOMITMEN
• KERENDAHAN HATI
• KEJUJURAN





Cerita Pohon Apel dan Anak Laki-Laki

3 05 2010

Suatu ketika, adalah sebatang pohon apel besar. Seorang anak lelaki senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

apple_tree_and_boySuatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

*****

Ini adalah cerita setiap kita. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi sadarkah Anda bahwa seringkali begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita?





Paskah dan Kelinci

4 04 2010

SinaulanSelain telur, ada simbol lain yang senantiasa ada di dalam masa Paskah. Simbol itu adalah kelinci. Kelinci adalah hewan yang sangat subur. Karena itu, kelinci dijadikan lambang kehidupan baru yang senantiasa berlimpah di musim semi.

Di dunia ini kelimpahan umumnya hanya diidentikkan dengan materi. Banyak orang Kristen yang mematok bahwa menjadi pengikut Kristus harus senantiasa berlimpah secara materi. Apakah benar menjadi pengikut Kristus harus senantiasa berlimpah dengan materi? Bagaimana jika seseorang setia mengikut Kristus, namun secara materi orang tersebut biasa-biasa saja? Apakah ia masih dapat disebut sebagai pengikut Kristus?

Mari kita renungkan apa yang dimaksud Rasul Paulus dengan “kelimpahan”? Kelimpahan di sini adalah soal kemurahan hati. Kemurahan hati yang senantiasa mengucap syukur atas apa pun yang terjadi. Kemurahan hati juga mengantar setiap anak Tuhan untuk berbagi segala sesuatu tanpa pamrih. Dalam kemurahan hati inilah terpancar kemuliaan Tuhan.

Kelinci Paskah mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus kita beroleh kelimpahan. Kelimpahan yang tidak dapat diukur secara materi. Karena itu, jangan bimbang jika secara materi kita tidak berlimpah. Tetaplah percaya kepada Kristus. Sebab kelimpahan materi bukan sebuah tanda mutlak kita tinggal di dalam Kristus. Tanda yang nyata bahwa kita tinggal di dalam Kristus adalah ketika kita berkelimpahan di dalam kemurahan hati.

… Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu …. (2 Kor. 9:10)

[Sumber: Marion Marcel Marianto]