Bagaimana menari di bawah hujan?

11 06 2009

Saat itu adalah pagi yang sibuk, sekitar jam 8.30, ketika seorang pria lanjut usia yang berumur sekitar 80-an datang untuk membuka jahitan luka di jempol tangannya.

Ia berkata bahwa ia sedang terburu-buru karena ia ada janji pada jam 9.00 pagi. Saya memeriksa kesehatannya dan mempersilakan dia duduk, dan saya tahu bahwa hal itu akan selesai satu jam sebelum seseorang dapat bertemu dengannya. Saya memandang pria ini sedang melihat arlojinya dan saya memutuskan, karena saya tidak sibuk dengan pasien lain, saya akan memeriksa lukanya. Pada waktu pemeriksaan, luka itu telah sembuh benar, sehingga saya memanggil salah seorang dokter untuk menanganinya. Saya mengambil perlengkapan yang diperlukan untuk membuka jahitannya dan membebat lukanya.

Sementara mengurus lukanya, saya bertanya kepadanya apakah ia akan ketemu dokter lain pada pagi ini, sehingga ia terburu-buru. Pria ini berkata kepada saya bahwa ia harus pergi ke rumah jompo untuk sarapan pagi bersama isterinya. Ia berkata bahwa isterinya sudah ada di sana selama beberapa waktu dan isterinya itu terkena penyakit Alzheimer.

Ketika ngobrol, saya bertanya apakah isterinya akan marah apabila ia datang terlambat. Ia menjawab bahwa isterinya sudah tidak lagi mengenalinya, ia sudah tidak mengenalinya selama lima tahun terakhir ini.

Saya terkejut dan bertanya kepadanya, “Dan apakah anda masih datang setiap pagi, meskipun isteri anda sudah tidak mengenali anda lagi?”

Ia tersenyum, menepuk tangan saya dan berkata, “Ia memang tidak mengenali saya lagi, tetapi saya masih mengenali siapa dia.” Saya harus menahan derai air mata saya ketika pria itu pergi, tangan saya bergetar, dan berpikir, “Inilah jenis kasih yang saya dambakan dalam hidup saya.”

rain_danceKasih sejati bukanlah soal cinta badaniah, bukan juga soal cinta yang romantis. Kasih sejati adalah menerima semua yang ada, yang telah ada, yang akan ada, dan yang tidak akan ada. Dengan segala rupa lelucon dan kesenangan dalam email yang kita kirim, kadang-kadang ada satu email yang datang dengan pesan yang penting. Inilah yang saya pikir yang akan saya bagikan dengan anda:

“Orang-orang paling bahagia tidak perlu harus memiliki segala yang terbaik; Mereka hanya membuat yang terbaik dari segala sesuatu yang mereka miliki.”

Saya berharap anda akan membagikan hal ini dengan seseorang yang anda sayangi. Saya baru saja melakukannya. “Hidup ini bukan hanya soal bagaimana bertahan ketika badai menerpa, namun juga bagaimana kita bisa menari di bawah hujan.” (Sumber: Sherly Kristamuljana)





Keajaiban 1 Dollar 11 Sen

28 05 2009

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Adiknya sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.

Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar- benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil !

“Apa yang kamu perlukan ?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”

“Apa yang kamu katakan ?,” tanya sang apoteker.

“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya. .. tapi saya juga mempunyai uang.”

“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga. “dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu”. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata : “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal…. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu,” bisik ibunya, “adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”.

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan.

FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum hukumMU yang adil (Mazmur 119:105 -106)





Nyanyian Seorang Kakak

30 04 2009

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA, tahun 1992. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen mempersiapkan Michael (3 tahun) anaknya yang pertama, menyambut kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen: “Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.”

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya yang sewaktu-waktu bisa dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami,… aku mau nyanyi buat adik kecil!”
Ibunya kurang tanggap. “Mami, ….aku pengen nyanyi!”
Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami, ….aku kepengen nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis.

Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!

Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. “Anak kecil dilarang masuk!”
Karen ragu-ragu. “Tapi, suster….”
Suster tak mau tahu: “Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!”
Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael
tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!”
Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya…… lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “…..You are my sunshine, my
only sunshine, you make me happy when skies are grey….”

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You
never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.”
Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan “Terus,….terus Michael! “Teruskan sayang!” bisik ibunya….
“The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands…..”
dan……sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang.

Pernapasannya lalu menjadi teratur…….. “I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same…….” Sang adik kelihatan begitu tenang …. sangat tenang.

“Lagi sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai……. lalu tertidur lelap.

Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati.

Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”, serta hati polos seorang anak kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Nyanyian tulus membawa mukjizat.





Manusia Mujizat

20 02 2009

Keluarga Mike Connolly dan para perawat menyebutnya Manusia Mukjizat — dan para dokter mau tak mau harus mempercayainya.

Akhir Januari lalu, jantung Connolly (56 tahun) berhenti berdetak, dan ia jatuh dalam keadaan koma. Setelah 96 jam dirawat intensif dengan berbagai peralatan, para dokter Tri-City Medical Center menyerah. Akhirnya, keluarganya dengan sedih, merelakan Connolly “pergi” dengan menyetujui pencabutan alat-alat bantu kehidupan yang menempel disekujur dirinya.

Ketika itulah, tiba-tiba Connolly sadar.

Anak tirinya, Mike Cooper, sedang membacakan Alkitab di samping ranjang Connolly ketika ia melihat air mata meleleh di pipi Connolly.

Cooper tadinya tidak begitu memperhatikan kejadian ini, namun ketika ia beranjak ke luar kamar, ia mendengar teriakan seorang angggota keluarga Connolly yang masih ada di kamar perawatan tersebut.

“Mike bereaksi, katanya. Saya mula-mula tidak percaya, tapi waktu saya masuk kembali, ternyata benar. Waktu namanya disebut, Connolly memalingkan kepalanya ke arah yang memanggil. Ini sebuah mukjizat” kata Cooper.

Ternyata walau para dokter telah menyatakan bahwa Connolly tanpa harapan dan otaknya tidak mungkin pulih kembali, saat ini ia menunjukkan kemajuan pesat. Bahkan para dokter yang tadinya sangsi tersebut, menyatakan bahwa Connolly menuju pemulihan total.

Martin Nielsen, dokter spesialis paru-paru Connolly, menyatakan bahwa tidak berlebihan menyebut kejadian pemulihan tersebut mukjizat. “Kejadian Mike Connolly merupakan mukjizat,” katanya. “Saya tidak pernah melihat ada orang yang pulih kembali seperti dia.”

Pencobaan Connolly dimulai di rumah sekitar jam 6 pagi tanggal 31 Januari 2009, saat ia mengalami arrhythmia — semacam korslet di otot jantung sehingga jantungnya berhenti berdetak tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Istri Connolly, Loris, terbangun mendengar suaminya tersedak. Ia melihat suaminya tersungkur di kursi, dengan semangkuk Raisin Bran di pangkuannya, di ruang tamu apartemen mereka.

Tidak mudah memindahkan Connolly yang berbobot sekitar 113 kg dengan tinggi 203 centimeters. Istrinya bahkan tidak dapat memindahkan Connolly dari kursi ke lantai.

“Ia betul-betul tidak sadar,” kenangnya. “Tidak ada denyut jantung. Tidak pula bernafas.”

Takut suaminya telah meninggal, ia menelpon 911 (gawat darurat). Menurut data NorthComm, panggilan datang jam 6:10 pagi, dan petugas paramedis tiba di alamat apartemen Shadowridge Drive jam 6:16.

Dr. Nielsen mengatakan bahwa saat petugas paramedis tiba, jantung Connolly tidak berdetak. Menurut data electrocardiogram yang direkam saat proses menyadarkan Connolly, para petugas telah melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation = tindakan medis darurat berupa pemompaan bagian dada serta bantuan pernapasan) dan memberi kejutan listrik sampai sekitar 35 menit, barulah jantung Connolly berdenyut lagi.

Tidak ada yang tahu pasti berapa lama otak Connolly tanpa oxigen, tapi Dr. Nielsen memperkirakan sedikitnya 10 menit. Jangka waktu demikian, katanya, umumnya mengakibatkan otak mengalami kerusakan hebat kalaupun pasien bisa sadar kembali. “Umumnya, kalau otak tanpa oxigen lebih dari 4 menit saja, maka otak akan mengalami kerusakan parah,” kata Dr. Nielsen.

Petugas paramedis mengantar Connolly yang dalam keadaan tidak sadar ke Tri-City Medical Center, dimana para dokter memutuskan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkannya adalah dengan proses hypothermia (membuat suhu tubuhnya di bawah suhu tubuh normal).

Para dokter membungkus tubuhnya dengan selimut pendingin khusus untuk menurunkan suhu tubuhnya dari 37° C ke 34° C. “Suhu dingin tersebut,” Dr. Nielsen menjelaskan, “dapat menghambat pembengkakan otak dan, dari hasil penelitian klinis, juga mengurangi kerusakan otak.”

Setelah 24 jam didinginkan, para dokter mencoba menyadarkan Connolly dari koma-nya, namun setiap kali mereka mencoba, setiap kali itu pula mereka gagal. “Kegagalan,” kata Dr. Nielsen, “biasanya menandakan bahwa pasien tidak akan pulih kembali.”

Keluarga Connolly mempersiapkan diri untuk menerima hal yang terburuk, namun tidak berhenti berdoa.

Connolly sadar beberapa hari kemudian.

Duduk di kamar perawatannya, Senin, Connolly berbincang-bincang dengan anggota keluarga dan bersenda gurau dengan para perawat, yang menyebutnya “Manusia Mukjizat.”

Ia bilang bahwa dadanya masih ngilu akibat proses CPR. “Merasakan keadaan tulang dada saya, rasanya saya amat beruntung,” katanya. “Bagian sini masih agak masuk, dan mungkin perlu waktu lama untuk kembali.”

Dalam 12 hari setelah ia sadar, Connolly sering merasakan kekejangan otot —- beberapa sangat hebat —-
namun berangsur-angsur reda, kata istrinya.

Loris Connolly mengatakan ia akan selalu mengenang saat-saat ia melihat suaminya kembali sadar. “Kini saya tahu arti kata PENGHARAPAN, itu adalah kata terindah yang saya pernah dengar,” katanya.

[Paul Sisson – http://www.nctimes.com/articles/2009/02/16/news/coastal/oceanside/z2c380328ce6aed428825755f007dcc90.txt%5D