Upacara Bendera Secara Digital

18 08 2010

Enam belas ribu pengunjung berhasil mengikuti upacara bendera secara digital yang dilaksanakan di http://www.indonesiaoptimis.org, 17 Agustus 2010 lalu. Kegiatan ini merupakan sebuah gagasan yang sangat revolusioner dari sekelompok anak muda Yogyakarta yang bernama Indonesia Optimis.

“Pada tanggal 16 Agustus kami memulai memperkenalkan aksi ini melalui Twitter dengan dibantu oleh banyak teman teman yang aktif di jejaring sosial, komunitas IT, portal komunitas dan ke berbagai mailing list. Ketika 17 Agustus 2010 jam 07.00 WIB pengunjung sudah mulai bisa secara interaktif mengikuti prosesi upacara yang dijalankan oleh perintah setiap pengunjung dengan cara menekan icon berupa petugas upacara,” kata kelompok ini menjelaskan awal aksi ini diadakan. “Kami memilih jejaring sosial dan internet dikarenakan memang generasi muda yang kami targetkan terkena pesan ini selalu ada di sana dan sangat aktif, di mana kita ketahui bahwa pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia sangat besar dan bahkan Facebook mencapai terbesar di Asia.”

“Admin sudah bersiap dari dini pagi hari ini, menyapu lapangan agar bersih, menyetrika bendera, melatih para pasukan #UpacaraBendera digital” ketika waktu sudah mendekati waktu Upacara. “Hari ini, setiap orang bergadang u/ membuat #Indonesia65 terus naik sbg Trending Topic, u/ mengatakan pada dunia “KAMI ADA DAN MAJU” Tidak ada kata menyerah untuk membela bangsa kita.”

Upacara Digital ini dimulai tepat pukul 10.00 WIB sesuai dengan instruksi yang ada. “09 : 55 > Ternyata http://indonesiaoptimis.org/ total pengunjung 10.482. Tim Paskibraka menyiapkan mental”.

“Yang paling unik di era digital ini kami mengangkat demokratisasi dengan adanya 3 pembina upacara yang bebas dipilih dan didengarkan amanatnya yaitu Iwan Esjepe seorang aktivis Indonesia Bertindak, Pandji Pragiwaksono seorang pemuda aktif di #IndonesiaUnite dan sering menulis lagu serta tulisan yang membangkitkan semangat nasionalisme dengan bahasa anak muda, serta tidak ketinggalan seorang blogger terkenal dengan nama Ndorokakung yang acap menulis berbagai kejadian di sekitar kita dengan kacamata yang berbeda,” kata kelompok ini menjelaskan lebih lanjut.

“Dan yang luar biasa karena ini ditunjang oleh Twitter yang berbasis teks maka imajinasi bisa luar biasa berkembang, di mana setiap peserta membayangkan suasana pada saat dahulu mengikuti upacara bendera, sehingga di timeline banyak sekali muncul celetukan seperti “Bu Guru sebelah saya mau pingsan”, “Wah pemimpin upacaranya ganteng”, “Enakan jadi P3K aja biar bisa dapet tempat teduh”, “Merinding mau pengibaran bendera nih” Komentar-komentar tersebut memang pernah terjadi dahulu.”

Lonjakan pengunjung sempat membuat server menjadi tidak diakses, namun pengibaran tetap berjalan dengan khidmat. Pada situs tersebut bukan hanya ada tampilan upacara saja, tapi juga lagu-lagu, pembacaan Pancasila, pengibaran bendera (YouTube), dan tidak ketinggalan rekaman pembacaan teks Proklamasi oleh Bung Karno.

Sumber: http://ictfiles.com/detail/Web_Technology/2010/08/18/upacara_bendera_digital dan http://chip.co.id/articles/news/2010/08/19/upacara-bendera-cara-digital-di-indonesia-optimis/

Iklan




Seputar Proklamasi RI

17 08 2009

Fakta-fakta seputar proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945:

– Revolusi dari kamar tidur. Bung Karno baru bangun pukul 09.00 setelah sebelumnya terkena serangan malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

proklamasi_ri– Tanpa protokol. Tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!

– Seprei dan Tukang Soto. Bendera Merah Putih terbuat dari kain sprei dan kain tukang soto!

– Perintah Presiden pertama: “Panggil tukang sate!” Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

naskahproklamasitt– Teks Proklamasi di Keranjang Sampah. Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

– Proklamator di balik layar. Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat dini hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon-calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

– Dokumentasi Proklamasi selamat berkat bohong. Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita karena satu kebohongan. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

– Hari kelahiran dan kematian. Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

– Tidak ada jalan Sekarno Hatta di Jakarta. Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara (yang secara geografis terletak di provinsi Banten) diresmikan dengan memakai nama mereka.

– Gelar Resmi Proklamator baru 1986. Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

– Menteri asli Indonesia. Baru setelah merdeka 43 tahun Indonesia punya mentri yang 100% Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

[Sumber: http://www.honda-tiger.or.id/forum/fakta-fakta-seputar-t14741.html?s=41985a6633ccafd636b44c59c853f193&t=14741%5D





Proklamasi

17 08 2008

sinaulan170808